Gonore merupakan penyebab utama komplikasi reproduksi yang serius pada wanita dan dapat memfasilitasi transmisi HIV. Pengobatan gonore menjadi rumit karena berkembangnya resistensi Neisseria gonorrhoeae terhadap antimikroba. Berdasarkan data dari CDC's Gonococcal Isolate Surveillance Project (GISP), CDC merekomendasikan terapi kombinasi ceftriaxone 250 mg intramuskular dan azitromisin 1 g peroral dosis tunggal atau doksisiklin 100 mg secara oral dua kali sehari selama 7 hari sebagai pengobatan paling efektif untuk gonore tanpa komplikasi. CDC tidak lagi merekomendasikan cefixime sebagai obat lini pertama untuk pengobatan infeksi gonokokus. Jika sefiksim digunakan sebagai agen alternatif, maka pasien harus kembali kontrol 1 minggu kemudian.
Paket UpDate in Internal Medicine
Paket UpDate in Dermatology
Paket UpDate in Pediatrics
Paket UpDate in Pediatrics
Paket UpDate in Internal Medicine
Berisi buku-buku ilmu penyakit dalam antara tahun 2010 - 2012 .. More
Paket UpDate in Dermatology
Berisi buku-buku ilmu penyakit kulit antara tahun 2010 - 2012 .. More
Paket UpDate in Pediatrics
Berisi buku-buku ilmu penyakit mata antara tahun 2010 - 2012 .. More
Paket UpDate in Pediatrics
Berisi buku-buku ilmu kesehatan anak antara tahun 2010 - 2012 .. More
Showing posts with label Interna. Show all posts
Showing posts with label Interna. Show all posts
Gagal Jantung
Categories :
- Gagal jantung sistolik disebabkan oleh gangguan ejeksi ventrikel darah. Gagal jantung diastolik merupakan hasil dari gangguan relaksasi dan pengisian ventrikel kiri selama diastole.
- Gagal jantung simtomatik memiliki mortalitas 1 tahun hampir 50%.
- Penyebab tersering gagal jantung adalah disfungsi sistolik ventrikel kiri, yang biasanya merupakan hasil dari penyakit arteri koroner.
- Gejala gagal jantung meliputi dispnea, ortopnea, paroxysmal nocturnal dyspnea, kelelahan, intoleransi aktivitas, edema perifer, dan peningkatan berat badan.
- Tanda gagal jantung meliputi distensi vena jugularis, bunyi jantung tambahan (S3 pada gagal jantung kiri dan S4 pada pasien dengan peningkatan resistensi pengisian ventrikel), pulmonary crackles, wheezing, efusi pleura, dan pitting edema.
- Lab harus mencakup elektrolit dengan BUN dan kreatinin, hitung darah lengkap, rontgen thorax PA/lateral, EKG, dan ekokardiografi. Kateterisasi jantung biasanya dilakukan bila penyebab gagal jantung tidak jelas atau ketika dicurigai adanya iskemia miokard.
- Foto rontgen pada gagal jantung dapat dikaburkan atau terganggu jika ada penyakit paru-paru yang mendasari, dan tidak ditemukan pada pasien dengan gagal jantung kronis.
- Gagal jantung merupakan penyebab jarang dari dispnea di IGD pada pasien dengan kadar B-type natriuretic peptide normal.
- Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor menurunkan mortalitas, gejala, fraksi ejeksi ventrikel kiri, dan toleransi latihan dan rawat inap. ACE inhibitor harus diberikan sedini mungkin selama pengobatan gagal jantung sebelum terjadinya diuresis yang berlebihan.
- Pasien yang mengalami batuk atau angioedema dengan terapi ACE inhibitor harus dialihkan ke angiotensin reseptor blocker (ARB).
- Pasien yang mengalami insufisiensi ginjal yang signifikan atau hiperkalemia dengan terapi ACE inhibitor maupun ARB harus dialihkan ke kombinasi hydralazine dan isosorbide dinitrate.
- Beberapa beta-blocker seperti carvedilol dan bisoprolol menurunkan morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan gagal jantung, tetapi harus dimulai hanya setelah kondisi pasien stabil dan status volume telah dinormalisasi.
- Digoxin mengurangi tingkat rawat inap dan memperbaiki gejala-gejala dan meningkatkan kualitas hidup, tetapi angka mortalitasnya tidak lebih rendah.
- Mineralocorticoid receptor antagonists tampak menjanjikan pada gagal jantung bila digunakan dengan ACE inhibitor tetapi penggunaannya dibatasi oleh hiperkalemia.
- Uji klinis pengujian obat untuk gagal diastolik sangat terbatas. ACE inhibitor dan ARB dapat meningkatkan kapasitas latihan dan mengurangi risiko rawat inap. Diuretik sesuai untuk manajemen volume tetapi harus digunakan dengan hati-hati karena pasien sensitif terhadap pengurangan preload yang berlebihan.
- Setelah pulih, pasien harus diedukasi tentang diet garam dan pembatasan cairan dan harus menimbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama. (ariesta)
Sumber : Sun John C, Jovve Hylton V. 2007. The Most Common Inpatient Problems in Internal Medicine - Ward Survival. New York: Elsevier, pp: 23-25.
Ketoasidosis Diabetik (KAD)
Categories :
- Ketoasidosis Diabetik (KAD) ditandai dengan hiperglikemia (gula darah biasanya di atas 300 mg / dL), hiperketonemia, dan asidosis metabolik.
- KAD klasik terjadi pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 1 tapi bisa juga kadang-kadang berkembang pada pasien dengan diabetes tipe 2.
- Pencetus utama KAD diantarany yaitu penghentian insulin (baik endogen atau eksogen), infeksi, dan stres (misalnya infark miokard atau stroke). Namun, seperempat pasien dengan KAD tidak teridentifikasi faktor pencetusnya.
- Pasien dengan KAD umumnya datang dengan penurunan berat badan, poliuria, polidipsi, mual, muntah, dehidrasi, dan nyeri abdomen. Demam bukan merupakan fitur dari KAD itu sendiri namun menunjukkan infeksi yang mendasarinya.
- Pada pemeriksaan fisik, pasien biasanya memiliki tanda-tanda deplesi volume, namun juga dapat ditemukan nafas Kussmaul (peningkatan ventilasi untuk mengkompensasi asidemia) dan bau aseton.
- Pemeriksaan laboratorium awal harus mencakup elektrolit, fungsi ginjal, glukosa serum, hitung darah lengkap, tes fungsi hati, urine, keton (nitroprusside tes atau beta-hidroksibutirat), analisa gas darah arteri, laktat serum, phosphokinase creatine, elektrokardiogram, rontgen thoraks, kultur darah, urine, dan dahak (jika ada), dan skrining toksikologi (jika diduga menelan bahan beracun).
- Kadar Natrium serum sering kali rendah dari efek pengenceran yang disebabkan oleh hiperglikemia tersebut.
- Anion gap (mewakili anion plasma yang tidak terukur) biasanya meningkat pada KAD, tetapi dapat juga meningkat pada kondisi lain selain DKA.
- Uji nitroprusside mungkin tidak menunjukkan tingkat ketonemia yang sebenarnya dikarenakan uji ini tidak mendeteksi beta-hidroksibutirat, yang merupakan badan keton dominan yang beredar pada KAD.
- KAD berhubungan dengan kehilangan cairan (biasanya 3-6 L), sebagian besar karena diuresis osmotik. Pasien dengan anuria, misalnya pada stadium akhir penyakit ginjal dapat kehilangan cairan minimal, kecuali bila bersamaan dengan muntah atau diare.
- Normal salin dan insulin reguler intravena (5-10 U bolus, kemudian 5-10 U / jam) harus dimulai secara bersamaan. D5 (5 dekstrosa%) harus ditambahkan ke cairan intravena ketika glukosa darah turun di bawah 250 mg / dL.
- Konsentrasi kalium serum akan menurun selama pengobatan dikarenakan insulin akan menggeser kalium ke intrasel. Kadar Kalium 40 mEq / L (kurang jika ada coexisting insufisiensi ginjal) harus ditambahkan ke cairan intravena ketika kalium serum turun di bawah 4,0 mEq / L.
- Terapi Bikarbonat dan replesi fosfat masih kontroversial dikarenakan terapi ini memiliki dampak yang tidak diharapkan dan belum terbukti bermanfaat dalam KAD.
- Transisi ke insulin subkutan seharusnya hanya dilakukan bila anion gap sudah menutup dan nafsu makan pasien telah kembali. Insulin subkutan aksi cepat harus diberikan 30 sampai 60 menit sebelum menghentikan drip insulin, jika tidak, KAD akan kambuh dengan cepat. (ariesta)
Diterjemahkan dari: Sun John C, Jovve Hylton V. 2007. The Most Common Inpatient Problems in Internal Medicine - Ward Survival. New York: Elsevier, pp: 101-103.
Cara Penularan Hepatitis B dan Pencegahannya
Categories :
Hepatitis B disebabkan oleh sejenis virus yang dinamakan HBV (Hepatitis B Virus). Virus ini akan mengganggu fungsi hati dan mengaktifkan sistem imun tubuh yang akan menimbulkan reaksi imun spesifik. Sebagai akibatnya, hati akan mengalami inflamasi / peradangan. Sebagian kecil orang yang terinfeksi virus ini tidak dapat sembuh sempurna, malah akan menjadi kronis dan berisiko tinggi terhadap kematian dikarenakan sirosis dan kanker hati.
Virus Hepatitis B ini ditransmisikan melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh orang yang telah terinfeksi HBV, sebagaimana transmisi penyakit pada HIV. Namun, HBV ini 50 - 100 kali lebih infeksius daripada HIV.
Cara penularan utama dari HBV adalah :
Virus Hepatitis B ini ditransmisikan melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh orang yang telah terinfeksi HBV, sebagaimana transmisi penyakit pada HIV. Namun, HBV ini 50 - 100 kali lebih infeksius daripada HIV.
Cara penularan utama dari HBV adalah :
- perinatal (dari ibu ke janin ketika melahirkan).
- transmisi dari anak satu ke anak lainnya dalam satu keluarga.
- suntikan dan transfusi darah yang tidak steril.
- hubungan seksual.
Sumber: WHO
Subscribe to:
Posts (Atom)